Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2013

PAWIWAHAN


Upacara pawiwahan atau upacara pernikahan adalah peristiwa menyatunya dua insan manusia, upacara pawiwahan adalah serentetan upacara manusa yadnya yang bertujuan untuk menyatukan dua individu guna menciptakan rumah tangga berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam ajaran agama Hindu, fase-fase kehidupan yang dijalani oleh umat Hindu dibagi menjadi empat dan sering disebut dengan Catur Asrama. Pawiwahan termasuk ke dalam bagian dari Catur Asrama yaitu termasuk dalam tahap dua dalam Catur Asrama yaitu Grehasta Asrama.Grehasta Asrama adalah tingkat kehidupan berumah tangga. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Dalam memasuki masa Grehasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya). Oleh karena itu penggunaan Artha dan Kama sangat penting artinya dalam membina kehidupan keluarga yang harmonis dan manusiawi berdasarkan Dharma.
Tata cara pernikahan di Bali di bagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

1.UPACARA NGEKEB :
Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga dengan dengan memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.
2.MUNGKAH LAWANG (Buka pintu) :
Seorang utusan mungkah lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak 3 kali sambil diiringi oleh seorang malat yang menyanyikan tembang bali.
3.UPACARA MESEGEH AGUNG :
Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria. keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang bali dan biasanya berjumlah 200 kepeng.
4.MADENGEN-DENGEN :
Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energi negatif dalam diri keduanya. upacara ini dipimpin oleh seorang pemangku adat atau balian.
5.MEWIDHI WIDANA :
Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tampat pemujaan untuk berdoa memohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan.
6.MEJAUMAN NGABE TIPAT BANTAL :
Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasangan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang kerumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara menerima tamu. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita, terutama kepada para leluhur. bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, teh, sirih pinang, bermacam buah-buahan serta lauk pauk khas bali.

Dokumentasi upacara pawiwahan :


Pengantin ketika mengaturkan sembah.

Saat prosesi mesakapan.

Pakaian pawiwahan Bali
Payas Agung pawiwahan Bali.

Pengantin saat disahkan sebagai suami istri.


Sekian informasi dari saya, semoga bermanfaat.

Sumber :
neztra.blogspot.com/2012/04/runtutan-upacara-manusia-yadnya-dalam.html
kekelukeria.wordpress.com/2012/10/11/adat-pernikahan-orang-bali/
















Jumat, 11 Januari 2013

SIAT TIPAT BANTAL

Selain perang seperti Mekotek maupun Preng Pandan, ada satu lagi tradisi unik milik masyarakat Desa Adat Kapal, Mengwi, Badung yang dilaksanakan setiap purnama kapat yang terkenal dengan nama Perang Tipat Bantal atau Aci Rah Pengangon. Media yang digunakan bukanlah media benda tajam atau yang dapat melukai tubuh kita, melainkan Perang Tipat Bantal ini menggunakan media ketupat (tipat). Tradisi ini merupakan perwujudan untuk pengharapan atas kesejahteraan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Siat Tipat Bantal ini sendiri memiliki ikatan yang cukup relevan dengan kehidupan pertanian, masyarakat mengapresiasikan rasa syukurnya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan bentuk tradisi unik ini. Tradisi unik ini berlangsung di depan Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Kapal, dimana tradisi ini diawali dengan persembahyangan bersama di Pura tersebut. 
Sesuai dengan nama yang disematkan, masyarakat yang akan melaksanakan ritual ini dibagi menjadi dua kelompok, nantinya masing-masing kelompok akan dibagikan beberapa keranjang ketupat. Para pesertanya didominasi oleh kaum pria yang hanya menggunakan kamen tanpa menggunakan baju alisas telanjang dada. Selanjutnya masing-masing kelompokpun saling melemparkan ketupat hingga melambung ke angkasa dan bertemu dengan lemparan tipat lain dari kubu lawan ,hingga ketupat yang dibagikan tak tersisa lagi. Tipat adalah merupakan lambangfeminim dan bantal adalah merupakan lambang maskulin, sehingga apabila ditemukan akan menghasilkan sebuah kehidupan yang baru.iLimbah hasil ketupat yang berserakan di jalan raya pun segera dibersihkan oleh masyarakat secara gotong royong.

Dokumentasi Siat Tipat Bantal :

Para pria mengawali Siat Tipat Bantal dengan persembahyangan.


Acara lempar melemparpun dimulai.


Media yang digunakan adalah Tipat dan Bantal.


Saat perang terjadi.


Perang terjadi.


Itulah tadi ulasan dari Perang Tipat Bantal, sekian dari saya. Semoga informasi yang saya berikan bermanfaat.

Sumber: http://primbondonit.blogspot.com/2011_09_01_archive.html

Rabu, 19 Desember 2012

SESIATAN ANGGEN NGUKUHAN RASA MENYAMA BRAYA


 Om Swastiastu

Kata perang selalu identik dengan kekerasan maupun tindakan yang anarkis, namun berbeda halnya dengan perang yang terjadi di beberapa wilayah yang ada di Bali. Perang ini malah menjadi ajang untuk menyama braya (menjalin persaudaraan) antar sesama warga. Berikut ini adalah merupakan contoh-contoh beberapa perang unik yang ada di Bali. Walaupun informasinya kurang lengkap karena saya sendiri masih dalam proses belajar, namun saya harapkan dapat memberi sedikit pengetahuan bagi pembaca sekalian

MEKOTEK

Mekotek atau Gerebek Mekotek merupakan salah satu tradisi unik yang terdapat di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Tradisi ini dimulai pada saat zaman kerajaan Badung, yang dilatar belakangi oleh peristiwa penyambutan maupun pelepasan para prajurit kerajaan Badung, yang akan menuju medan laga maupun yang sudah kembali dan membawa kemenangan atas nama kerajaan Badung. Upacara ini sendiri sampai saat ini masih dapat kita jumpai disetiap Hari Raya Kuningan. Dahulu ketika zaman kependudukan kolonial Belanda di Bali, tradisi mekotek sempat ditiadakan. Efeknya adalah beberapa warga Desa Munggu meninggal mendadak dan terjadi gerubug(wabah). Maka setelah mengalami perundingan yang cukup alot dengan pihak Belanda akhirnya tradisi mekotek dapat kembali digelar.

Upacara mekotek ini pada awalnya menggunakan tombak dari besi, demi alasan keamanan tombak dari besi kemudian diganti dengan tongkat yang panjangnya kira-kira 2-3,5 meter. Para peserta mekotek dari beberapa banjar yan berada di Desa Munggu berkumpul di Pura Dalem Desa Munggu sebelum melakukan tradisi mekotek. peserta laki-laki yang mengenakan pakaian adat ringan dan  berusia sekitar 12-60 tahun ikut berpartisipasi dalam upacara ini. Mereka kemudian berjalan bersama mengitari desa sambil membawa tongkat kayu tersebut. Setelah selesai mengitari desa merekapun kembali menuju areal Pura Dalem, mendekati areal Pura mereka membentuk beberapa kelompok untuk saling beradu tongkat kayu, tongkat kayu dibenturkan sehingga berbunyi "tek..tek..tek" dan dibentuk mengkrucut. Bagi peserta yang mempunyai nyali yang cukup besar, maka ia akan naik ke atas tumpukan tongkat kayu yang mengkrucut tersebut.

Inilah tradisi yang ditunjukan untuk peristiwa menangnya dharma melawan adharma, selain melestarikan tradisi, upacara ini juga menjadi ajang untuk mesawitra (mencari teman) atau menyama braya (menjalin persaudaraan).Berikut ini adalah dokumentasi upacara mekotek:


warga yang naik ke atas puncak tongkat kayu yang mengkrucut.


warga yang berebut menaiki puncak tongkat kayu yang mengkrucut.



MAGERET PANDAN 

Aci Perang Pandan terkait pelaksanaan upacara Usabha Sambah di Pura Puseh Desa Tenganan Paggringsingan, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali merupakan salah satu tradisi perang unik milik Pulau Bali. Atraksi perang pandan yang merupakan simbol prajurit kesatria dewa Indra ketika bertempur melawan menundukkan keangkaramurkaan Maya Danawa, sekaligus menggambarkan mitos sebagai wujud rasa bakti pada leluhur yang ditandai luka tetesan darah ketika megeret pandan.

Menurut buku cerita Usana Bali, disebutkan bahwa warga Desa Tenganan adalah merupakan keturunan dari warga Desa Peneges dilingkungan kerajaan Bedahulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Raja bertahta saat itu adalah Raja Maya Denawa yang berwatak kejam dan angkuh dan selama masa pemerintahannya, Maya Denawa tidak mengijinkan rakyatnya untuk ngaturan sembah (sembahyang) kehadapan para dewa. Hal hasil para dewapun mejadi murka, kemudian diutuslah dewa Indra (dewa perang) untuk memerangi Maya Denawa. Pada akhirnya Maya Denawa mengalami kekalahan. Sebagai ucapan trimakasih atas jasa dewa Indra, masyarakatpun mengadakan upacara yang disebut Aswameda Yadnya.

Saat sedang akan memulai yadnya, tiba-tiba kuda yang akan dijadikan caru yang disebut Onceswara menghilang. Dewa Indrapun menugaskan masyarakat Desa Peneges untuk mencari kuda tersebut. Warga dipecah menjadi dua kelompok, kelompok yang dipimpin oleh Ki Patih Tunjung Biru yang menuju arah timur berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati, daerah tersebut saat ini dikenal dengan sebutan Batu Jaran. Dewa Indra kemudian memberikan hadiah kepada Ki patih dengan memberikan wilayah kekuasaan untuknya dengan wilayah yang mencangkup bau kuda yang sudah mati tesebut, Ki Patih mendapatkan daerah yang cukup luas karena dia memotong bangkai kuda tersebut dan menyebarkannya sejauh yang dia bisa lakukan. Itulah asal mula dari daerah Desa Tenganan. Untuk menghormati peristiwa tersebut maka di Desa Tenganan diadakan mageret pandan untuk memperingati keperkasaan Dewa Indra sebagai Dewa Perang.

Mageret pandan ini merupakan suatu permainan yang menjadi permainan wajib bagi truna-truna (remaja laki-laki) Desa Tenganan karena melambangkan keperkasaan seorang lelaki yang akan meneruskan tradisi Desanya, Permainan ini menggunakan perisai dari anyaman ate berbentuk bulat dan daun pandan berduri tajam yang dipegang dan dijadikan senjata untuk melukai lawan.Namun meskipun luka mereka tidak memiliki rasa dendam, yang ada hanyalah rasa gembira dan semakin terjalinnya persaudaraan. Luka yang mereka dapatkan dalam perang pandan diobati dengan boreh(obat tradisional) dari bahan dasar kunyit yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit. Berikut dokumentasi mageret pandan : 





Demikianlah beberapa perang unik yang ada di Bali, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Om Santhi,Santhi,Santhi Om













Minggu, 28 Oktober 2012

TAKSU

Sira sane ngewangiang
Napi sane ngajegang
Bali maurip seni lan budaya
Sami pinaka meyadnya
Bali kaloktah ke dura negara
Sami seantukan taksu
Ngiring sareng-sareng, jage lan lestariang
Ngiring sareng-sareng
Laksanayang trihita karana


Lirik lagu diatas merupakan lirik lagu yang berjudul "taksu". Taksu merupakan salah satu dari sekian banyaknya keunikan yang hanya ada di Bali. Taksu bukanlah hanya sekedar pelinggih bagi masyarakat Bali. Taksu sendiri membawa kharisma bagi setiap masyarakat yang ada di Bali. Bagi pemahat, pelukis, penari, penyair, dan pelaku seni Bali yang lainnya taksu merupakan pembimbing kerohanian yang memberikan energi, kehalusan jiwa, dan kemurnian pikiran.

Taksu Prahyangan menuntun gerak kehidupan kita kedalam rasa bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widdhi. Setiap langkah karya yang dibawakan oleh seniman Bali akan kelihatan mempesona, berkharismatik, memancarkan suatu energi positif, dan membawa ketenangan jiwa bagi setiap penontonnya. Taksu adalah alasan dari semua decakan kagum setiap penonton ketika sedang mengamati karya seni hasil karya seniman Bali.

Banyak pihak yang mendengungkan tentang Ajeg Bali, namun masih banyak yang salah kaprah tentang arti sebenarnya dari Ajeg Bali. Ajeng bali bukan hanya sekedar berbicara tentang bagaimana melestarikan pakaia, makanan, dan tradisi Bali. Menjaga Taksu dan Tri Hita Karana merupakan salah satu hal penting di balik ajakan untuk mengajegkan Bali. 

Temuan-temuan yang diperoleh, taksu pada dasarnya merupakan landasan berpikir dalam upaya mengungkapkan nilai-nilai dan makna keindahan yang tertinggi. Berdasarkan keterangan di atas ditemukan tiga unsur penting yang saling mempengaruhi untuk tercapainya pemahaman nilai-nilai taksu, yaitu : undagi (arsitek), griya (karya), dan masyarakat umum (penghuni griya). Undagi dengan karyanya bila mendapatkan suatu pengakuan, penghargaan dari masyarakat dikatakan sebagai undagi metaksu dan griya metaksu. Metaksu adalah hasil apresiasi masyarakat sebagai penikmat karya, karena secara kreatif seniman tersebut telah mampu menghasilkan dan menyampaikan suatu karya yang memenuhi nilai-nilai yang hendak dikomunikasikan, berupa pesan-pesan estetik. 

Inti dari pencapaian taksu menjadi metaksu, adalah didalam suatu karya tersembunyi subjektivitas undagi, dan masyarakat melihat sebagai suatu karya yang utuh (manunggal). Maka taksu dapat dikatakan semacam “ideologi” bagi masyarakat Hindu Bali; dalam pengertian sebagai suatu kumpulan nilai-nilai budaya asli daerah yang dijadikan landasan pemikiran, pendapat yang memberikan arah tujuan untuk mencapai kualitas dalam kehidupan. 

Pencapaian pemahaman nilai-nilai taksu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi undagi karena akan berdampak dalam upaya menjaga kualitas keharmonisan dan keserasian antara bhuwana alit dan bhuwana agung, sesuai tujuan akhir hidup orang Bali, yaitu : mencapai kesejahteraan jagad dan mencapai moksa (keabadian akhirat).

Sabtu, 20 Oktober 2012

OMED-OMEDAN

Omed-omedan adalah salah satu tradisi unik milik Banjar Kaja, Desa Sesetan. Omed-omedan yang dalam bahasa Indonesia berarti tarik-tarikan merupakan salah satu tradisi yang sangat unik. Tradisi ini sudah ada jauh sebelum pendudukan kolonial Belanda di Bali. Omed-omedan hanya boleh dilakukan oleh seka truna truni Banjar Kaja saja. Biasanya Omed-omedan dilaksanakan pada hari Ngembak Geni atau sehari setelah Hari Raya Nyepi. 

Omed-omedan bukanlah atraksi cium-ciuman masal. Dahulu omed-omedan hanya tarik-tarikan semata, melainkan karena perkembangan zamanlah mulai ada cium-ciuman. Jika ada yang mulai cium-ciuman air segera diguyurkan agar ciumannya tidak menjadi lama. Tradisi ini sempat dihentikan, namun dilakukan lagi karena sempat terjadi semacam bencana. 

Sebelum omed-omedan dimulai, truna dan truni membentuk dua kelompok yaitu muda dan mudi yang berbaris rapi serta saling memegangi pingang rekan-rekannya yang berada didepan. Orang yang mengambil posisi di depan harus mampu berjalan ke depan sementara yang lain menarik berlawanan ke belakang. Saat orang yang didepan berhasil maju ke depan bertemu, disaat itulah keduanya berpelukan dan berciuman.Bahkan ketika ditelisik lebih jauh ke belakang, saat sedang berlangsung prosesi omed-omedan ada dua babi muncul ditengah kerumunan dan berkelahi sampai berdarah-darah. Kejadian ini dipercaya oleh warga banjar sebagai sebuah anugerah sehingga oleh masyarakat Banjar Kaja dibuatlah Barong Babi.

Berikut dokumentasinya :

 STT membentuk barisan

 Saling berpelukan

 Barong Babi memasuki arena omed-omedan
 Salik tarik-tarikan

Omed-omedan mengandung nilai kekeluargaan dan kebersamaan yang kental, dengan saling tarik-tarikan maka sikap kekeluargaan semakin terpupuk. Ini adalah tradisi yang syarat akan nilai kemanusian bukan tradisi yang belandaskan hawa nafsu.